Tragedi terburuk dalam sejarah Angkatan Laut Amerika Serikat
Share on:
Dari mode yang norak hingga over consumption
ilustrasi musik hair metal (youtube.com/Mark Ashcraft)
Verified Writer
Setiap dekade memiliki momen nostalgianya sendiri bagi setiap orang, entah itu mengecewakan atau justru sangat dirindukan. Tahun 1980-an sebenarnya sudah lama sekali. Namun, era tersebut masih mendominasi budaya kita, dari acara TV yang terinspirasi dari era 80-an seperti Stranger Things hingga politik yang mencakup gerakan konservatif.
Akan tetapi, waktu yang berlalu telah menghapus banyak detailnya, dan pandangan kita tentang tahun 1980-an tidak akan sama bagi mereka yang benar-benar hidup selama era tersebut. Itulah mengapa gambaran era 80-an tidak sepenuhnya akurat. Berikut adalah beberapa mitos tentang tahun 1980-an.
1. Mitos: fashion tahun 80-an sangatlah norak dan buruk
Kita mungkin tahu tentang fashion tahun 1980-an dari film. Biasanya, kita mungkin menganggap bahwa tren fashion era 80-an itu sangat norak dan heboh. Nyatanya, itu tidak sepenuhnya benar.
Pertama, orang biasa tidak berpakaian seperti karakter di TV atau video musik. Era 80-an adalah momen yang dinamis dan kreatif dalam hal mode. Faktanya, penampilan dan tren tahun 1980-an masih menginspirasi fashion kita saat ini, lho.
Banyak yang menganggap bahwa orang tua di tahun 1980-an tidak mengawasi anak-anaknya, itulah mengapa, era ini dianggap rawan akan penculikan anak. Seperti yang dicatat oleh The Denver Post, statistik penculikan anak di tahun 80-an terlalu dibesar-besarkan. Sekitar 95 persen dari anak-anak yang hilang pada tahun 1980-an adalah anak-anak yang melarikan diri dari rumahnya, dan sebagian besar sisanya terlibat dalam perebutan hak asuh.
3. Mitos: permen Halloween era 80-an sangat berbahaya
Menurut beberapa legenda urban, tahun 1980-an adalah era yang sangat buruk untuk anak-anak, salah satunya adalah permen Halloween yang beracun. Orang tua pada era ini pasti sangat hati-hati memilah-milah hasil permen Halloween anaknya. Konon, di dalam permen ini diselipkan silet cukur, atau obat-obatan terlarang.
Seperti yang History jelaskan, memang ada beberapa kasus permen Halloween beracun, tetapi hal itu tidak pernah menjadi konspirasi seperti saat ini. Sosiolog mengingat bahwa ada satu kasus terkenal pada 1974, ketika seorang ayah meracuni putranya sendiri dengan permen pada malam Halloween. Kasus ini pun akhirnya dikaitkan dengan keracunan Tylenol tahun 1982, yang akhirnya memicu ketakutan orang tua.
Akan tetapi, seperti yang dilaporkan CBC, hanya ada 200 kasus yang dilaporkan terkait permen Halloween yang dirusak di AS dan Kanada sejak tahun 1958, tapi sebagian besar dari laporan itu adalah hoax.
Tahun 1980-an selalu dikaitkan dengan para pemuja setan, yang secara ritual melecehkan dan membunuh anak-anak di penitipan anak. Seperti yang dilaporkan Vox, isu ini pun mencetuskan histeria massal.
Memang benar, di tahun 1980-an, ada peningkatan jumlah orang tua yang menitipkan anaknya ke penitipan anak karena kedua orang tuanya sama-sama bekerja. Di sisi lain, fundamentalisme Kristen sedang gencar-gencarnya mengajarkan bahwa Setan itu sangat nyata.
Akibatnya, banyak yang memberitakan bahwa tempat penitipan anak adalah tempat pelecehan bagi anak-anak untuk ritual setan. Seperti yang dilaporkan New York Daily News, kasus yang paling terkenal adalah prasekolah McMartin di California. Banyak dari mereka yang diadili.
Dalam kasus McMartin, anak-anak menuduh bahwa pekerja penitipan anak telah menyiram mereka di toilet, bisa terbang, dan menggunakan terowongan bawah tanah (yang sebenarnya tidak ada) untuk membawa mereka ke tempat-tempat upacara rahasia. Menurut ahli era modern, anak-anak kemungkinan dimanipulasi untuk mengatakan sesuatu yang memang tidak terjadi.
5. Mitos: MTV sangat populer di awal tahun 80-an
Pada tahun 1980-an, banyak yang menganggap bahwa MTV sangat terkenal dan mengguncang dunia. Eh, tapi tidak juga. Seperti yang dilaporkan Vanity Fair, saat MTV diluncurkan, tidak ada yang tertarik dengan saluran TV itu. Saluran tersebut hanya memiliki sekitar 120 video musik, tidak dapat dinikmati semua orang, dan mendapat ulasan yang sangat pedas.
Faktanya, saluran tersebut harus ditutup beberapa bulan. Lalu, pada tahun 1983, mereka muncul dengan lagu yang menjadi ciri khasnya "I Want My MTV!". Iklan itu bahkan menjadi ikonik sepanjang masa. Ketika Michael Jackson merilis Thriller, film pendek yang dia produksi untuk judul lagunya ditayangkan di MTV, disinilah banyak orang yang mulai melirik MTV.
Salah satu bagian paling ikonik dari tahun 1980-an adalah musiknya. Setelah era 1970-an yang didominasi punk dan disko, era 80-an membawa suara-suara baru ke radio. Namun, kebanyakan orang menganggap bahwa musik 80-an didominasi oleh pop atau hard rocksynth-heavy yang sering disebut sebagai "hair metal" karena lahirnya band Bon Jovi atau Poison.
Kenyataannya, musik pop di tahun 1980-an cukup beragam. Dilansir Top40Weekly.com, sepuluh artis teratas tahun 1980-an di antaranya adalah Michael Jackson dan Madonna, tetapi rocker seperti U2, Bruce Springsteen, dan Van Halen, serta bintang rap Run-DMC, dan The Police, juga mendominasi musik era 80-an.
Faktanya, hanya tiga dari 20 grup musik teratas tahun 1980-an yang dapat dianggap sebagai hair metal, yakni Van Halen, Def Leppard, dan Guns N' Roses. Sisanya diisi oleh bintang R&B seperti Janet Jackson, artis rap seperti N.W.A., dan rocker seperti Dire Straits.
7. Mitos: era 80-an dianggap sebagai "Dekade Keserakahan"
Bagi sebagian orang, tahun 1980-an dianggap sebagai era yang mengabaikan etika atau moralitas. Sikap ini diabadikan dan didukung oleh novel klasik Tom Wolfe tahun 1987, "The Bonfire of the Vanities", dan didukung oleh peristiwa Black Monday yang membawa bencana pada 1987, ketika pasar saham di seluruh dunia runtuh.
Hal ini menimbulkan kesan bahwa tahun 1980-an adalah "Dekade Keserakahan," yang ditandai dengan over consumption yang mencolok. Namun, ini tidak sepenuhnya benar. Seperti yang dicatat oleh Harvard Business Review, jumlah broker dan investor yang terlibat dalam perdagangan atau skema curang sebenarnya sangat rendah.
Sebagian besar orang di Wall Street bermain sesuai aturan dan bekerja dengan jujur demi keuntungan mereka. Bahkan mereka yang terlibat dalam transaksi saham yang tidak jelas sering kali kepikiran dan didera rasa bersalah.
Hanya sedikit orang yang tahu banyak tentang situasi ekonomi Amerika Serikat pada 1980-an, tetapi berkat banyak film dan mitos yang terus berlanjut, semua orang percaya bahwa Jepang menguasai Amerika.
Dalam beberapa dekade setelah Perang Dunia II, serangkaian perjanjian membuka pasar ke Jepang. Secara bersamaan, pabrikan Jepang mencapai peningkatan produktivitas yang mengesankan dan mereka unggul di pasar baru ini.
Di AS, mobil-mobil Jepang menguasai pasar, melonjak dari 9,4 persen menjadi 22,6 persen antara 1975 sampai 1982. Ada mitos yang mengatakan bahwa Jepang akan mengambil alih pasar-pasar AS.
Faktanya adalah, kekuatan pasar tertentu memang memberi Jepang keuntungan untuk sementara waktu, tetapi AS masih berada dalam kondisi yang kuat. Seperti yang dicatat oleh Reason.com, pada tahun 1980-an, manufaktur dan produksi AS secara umum meningkat hampir 33 persen, dan AS mempertahankan pangsa pasar globalnya untuk barang-barang manufaktur meskipun menghadapi persaingan dari Jepang.
Bagi kita yang tidak lahir era 80-an, mungkin mitos-mitos ini sangat lengket diingatan lewat penggambaran dalam film yang kita tonton. Akan tetapi, siapa sangka, ya, jika itu hanya isapan jempol semata dan tidak sepenuhnya benar.
Pada 20 Februari 2017, Republik Nagorno-Karabakh mengubah namanya menjadi 'Republik Artsakh'. Tetapi banyak orang yang masih menyebutnya dengan berbagai nama untuk wilayah kuno ini. Artsakh berulang kali mendeklarasikan kemerdekaannya, karena penduduk di Artsakh selalu mengalami ketidakadilan terkait hak-hak mereka.
Pada 27 September 2020, perang pecah di wilayah itu ketika pasukan Azerbaijan mulai membom Stepanakert, ibu kota Artsakh. Didukung oleh Turki, Azerbaijan memicu konfrontasi di tengah masalah pandemik COVID-19 yang melanda dunia kala itu. Namun terlepas dari segalanya, warga Artsakh terus memperjuangkan keberadaan mereka. Berikut ini adalah sejarah Artsakh yang panjang dan tragis.
Konflik di wilayah Artsakh, juga dikenal sebagai Nagorno-Karabakh, cukup baru dibandingkan dengan sejarah Artsakh itu sendiri. Artsakh, sekarang terletak di Azerbaijan, selama periode Uratria dikenal sebagai 'Urtekhe'. Pada abad keempat SM, ia disebut dengan 'Artsakh'.
Nama 'Karabakh' berasal dari abad keempat belas, yang merupakan perpaduan bahasa Persia-Turki dari kata Persia 'bagh', yang berarti 'taman,' dan kata Turki 'kara,' yang berarti 'hitam'. Nama 'Nagorno' berasal dari pemerintahan Rusia. 'Nagorno' berasal dari kata Rusia 'nagorny', yang berarti dataran tinggi.
2. Artsakh zaman dahulu
Setelah Kerajaan Urartu runtuh pada abad keenam SM, Dinasti Yervanduni mengambil alih kekuasaan dan mendirikan Kerajaan Armenia. Memasukkan wilayah yang sekarang dikenal sebagai Nagorno-Karabakh sebagai provinsi Artsakh. Selama periode Urartu, Artsakh disebutkan dalam berbagai prasasti.
Dilansir Ancient History Encyclopedia, Dinasti Yervanduni memerintah hingga abad kedua SM, awalnya di bawah kekuasaan Persia dan kemudian di bawah kendali Seleukia. Tetapi setelah kudeta, yang kemungkinan besar dipicu oleh Raja Suriah Antiokhus III, yang mengakibatkan pembunuhan Raja Armenia Orontes IV, Raja Artaxias berkuasa, mengantar dinasti Artaxiad.
Di bawah Tigranes II, yang memerintah dari 95–56 SM, Kerajaan Armenia menjadi negara terkuat di sebelah timur Roma dan membebaskan diri dari jeratan Seleukia. Pada masa pemerintahannya, Tigranes II juga mendirikan beberapa kota berdasarkan namanya. Tigranakert di Artsakh memiliki reruntuhan bangunan dan artefak dari era pagan dan Hellenic, serta merupakan pusat Kekristenan awal. Tetapi beberapa monumen paling awal Tigranakert berasal dari era pra-Kristen, termasuk patung batu antropomorfik besar dan Sahmanakars, atau batu perbatasan.
Ahli geografi Yunani Strabo, yang diperkirakan hidup dari 64 SM hingga 23 M, memasukkan Artsakh dalam deskripsi geografisnya tentang Greater Armenia. Ia menulis bahwa seluruh penduduk berbicara bahasa Armenia pada abad kedua atau pertama SM. Pengamatannya ini dikonfirmasi kebenarannya oleh temuan arkeologis.
Ketika Kerajaan Armenia dibagi antara Persia dan Bizantium Romawi pada 387 M, provinsi Artsakh dan Utik, yakni provinsi kesepuluh dan kedua belas Kerajaan Armenia, merupakan bagian dari Kerajaan Armenia Timur dan jatuh di bawah kekuasaan Persia.
Kerajaan Armenia berakhir di tangan Persia Sasanid pada 428 M. Provinsi Artsakh dan Utik diatur ulang menjadi marzpanate, atau provinsi perbatasan, Aran, juga dikenal sebagai provinsi Albania. Bersamaan dengan bekas Kerajaan Kaukasia Albania serta suku-suku yang tinggal di tepi pantai Kaspia. Aran/Artsakh tetap di bawah kekuasaan Persia sampai abad ke-7, saat kekuasaan Persia digantikan oleh kekuasaan Arab.
Provinsi Aghvank, yang termasuk Artsakh dan Kaukasia Albania, didominasi oleh agama Kristen pada awal abad ke-4. Gereja Albania dianggap sebagai cabang dari Gereja Armenia. St. Gregorius sang Illuminator dan cucunya, Grigoris, diangkat menjadi kepala Gereja Aghvank sekitar 330 M.
Menurut The Caucasian Knot, mausoleum yang didedikasikan untuk Grigoris menjadi monumen kuno tertua di wilayah tersebut. Terletak di biara Amaras, Amaras juga memiliki sekolah agama Armenia pertama di Artsakh, dibuka oleh Mesrop Mashtots. Antara abad ke 11 dan 13, lebih dari 40 pusat agama dan biara utama dibangun di Artsakh.
Meskipun pengaruh agama Kristen mulai berkurang setelah invasi Kekhalifahan Arab dan Islamisasi sebagian Aghvank, Artsakh tetaplah Kristen. Sementara beberapa kerajaan beralih ke Islam, Artsakh pun menggunakan bahasa Armenia. Pada abad ke-9, Artsakh diintegrasikan kembali ke Kerajaan Bagratid Armenia sebagai Kerajaan Khachen. Pada abad ke-13, terdapat lebih dari 5.000 gereja di Artsakh, banyak di antaranya sudah runtuh atau sekarang telah dihancurkan.
Selama Abad Pertengahan, Artsakh berulang kali ditaklukkan. Pertama oleh orang Arab pada abad ke-8, lalu orang Turki Seljuk pada abad ke-11, dan kemudian orang-orang Mongol pada abad ke-13. Namun, Artsakh mampu mempertahankan otonomi lokalnya di bawah pemimpin feodal.
Dari akhir abad ke-12 hingga abad ke-13, arsitektur Artsakh berkembang pesat. Saat ini, biara-biaranya digunakan sebagai pusat beasiswa dan seni serta pusat perlindungan. Menurut The Uses of Justice in Global Perspective, 1600–1900, seorang tokoh bernama Mkhitar Gosh menyusun risalah hukum Datastanagirk, atau Codex of Armenian Law, pada tahun 1184. Kode hukum tersebut digunakan di Greater Armenia dan Kerajaan Armenia Kilikia. Pada 1519, Raja Sigismund dari Polandia juga mengadopsinya sebagai hukum untuk koloni Armenia di Lvov.
Melik adalah sebutan untuk bangsawan Armenia selama periode feodal Kerajaan Khachen. Selama berbagai invasi, keluarga bangsawan ini memiliki kekuatan untuk memerdekakan Armenia dan melestarikan otonomi Artsakh. Melik memerintah kerajaan yang disebut Melikdom. Pada 1735, lima Melikdom bergabung untuk membentuk satu entitas politik-administratif yang dikenal sebagai Khamsa Melikdom. Dalam periode singkat di paruh kedua 1700-an, kaum Melik berada di bawah Karabakh Khanate, sebuah kerajaan Turki.
Berlangsung hingga abad ke-19, Khamsa Melikdom memiliki kekuatan politik, bekerja sama dengan bangsa Mongol untuk melawan invasi Kekaisaran Ottoman dari abad ke-16 hingga ke-18. Mereka juga saling terhubung dengan raja-raja di seluruh Eropa. Menurut Mountainous Karabakh, setelah Pyotr yang Agung dari Rusia melakukan kampanye Kaukasia pada 1721, dia meminta orang-orang Armenia untuk mengamankan Artsakh dan wilayah sekitarnya. Setelah itu, dia kemudian mengusir orang-orang Armenia dari Artsakh untuk tinggal di Persia utara atau Baku. Namun, mereka melawan dan berperang melawan Turki Ottoman. Pada 1736, di bawah pemerintahan Persia, Nader Shah mengakui otonomi Melik Armenia lagi.
Setelah Perjanjian Gulistan pada 1813, Artsakh berpindah kekuasaan dari Persia ke Rusia. Kaum Melik melayani Tsar Rusia, dengan harapan agar Rusia membantu reunifikasi Artsakh dengan Armenia, tetapi mereka keliru.
Pada 1827, suku Melik berniat menyatukan kembali tanah Armenia, termasuk Artsakh dan wilayah Karabakh. Namun rencana itu ditolak oleh Tsar Nicholas I. Artsakh tetap berada di wilayah yang dinamai provinsi Elizavetpol sementara Provinsi Armenia dipisahkan pada 1820-an, di antaranya kerajaan Yerevan dan Nakhichevan.
Selama periode ini, kota Shushi berkembang pesat dan distrik Armenia dibangun kembali setelah mengalami kehancuran selama pemerintahan Persia. Berbagai percetakan dan pusat pendidikan didirikan. Tak lama kemudian, Shushi menjadi pusat budaya dan seni Armenia. Populasinya termasuk Tatar, yang sekarang dikenal sebagai Azeri. Populasi dibagi secara merata, Tatar dihuni 11.595 orang dan Armenia 15.188 orang, menurut perhitungan pada tahun 1826.
Orang-orang Armenia terkonsentrasi di bagian pegunungan Artsakh, wilayah yang saat ini dikenal sebagai Nagorno-Karabakh. Abkhazia dan Ossetia Selatan, melarikan diri dari konflik di Persia. Ribuan pengungsi Armenia bermigrasi ke provinsi Armenia dan Artsakh setelah 1828.
Setelah Revolusi Rusia pada 1917, Artsakh bergabung dengan Federasi Transkaukasia, yang pada tahun berikutnya pecah menjadi republik Armenia, Azerbaijan, dan Georgia. Sayangnya, tahun 1918 menjadi tahun berdarah di Baku, ibu kota Azerbaijan.
Menurut Creating the Enemy Nation, pertumpahan darah pertama berlangsung pada 30 Maret hingga 2 April. Antara 10.000 sampai 30.000 orang Azerbaijan dibunuh. Dimulai sebagai konflik antara Partai Azeri Musavat dan Bolshevik, Dashnaktsutyun Armenia akhirnya bergabung dengan pihak Bolshevik setelah menolak aliansi dengan Azeri. September berikutnya, antara 10.000 sampai 30.000 orang Armenia tewas dalam upaya balas dendam atas pembantaian yang terjadi di awal tahun. Akibatnya, pembantaian itu dijuluki Hari Maret dan Hari September.
Di antara dua pembantaian ini, Armenia, Azerbaijan, dan Georgia mendeklarasikan kemerdekaannya pada akhir Mei 1918. Azerbaijan mengklaim wilayah Artsakh, tetapi rakyat Artsakh mengadakan kongres dan mendeklarasikan kemerdekaan sebagai Pemerintah Rakyat Karabakh pada bulan Juli 1918.
Setelah Kongres pertama ini, Pemerintah Azerbaijan meminta bantuan angkatan bersenjata Turki. Setelah ultimatum yang dikeluarkan oleh Noury Pasha, komandan angkatan bersenjata Turki, ditolak oleh Kongres Kedua Armenia Karabakh, pasukan Turki memasuki Baku dan menyebabkan ribuan orang Armenia tewas.
Pada bulan Maret 1920, sekitar 20.000 orang Armenia dideportasi dari Shushi, sementara 20.000 lainnya dibunuh. Pasukan Azeri dan Turki menjarah kota dan membakar apa pun yang tersisa. Ini bukan pertama kalinya Shushi menjadi sasaran. Menurut buku Terrible Fate oleh Benjamin Lieberman, pada Juni 1919, sekitar 600 orang Armenia dibantai di Shushi dan desa-desa tetangganya. Setelah milisi Armenia memberontak di Shusha, Terter, dan Askeran pada 22 sampai 23 Maret 1920. Pemerintah Azeri memimpin pasukannya ke Shushi sebagai balas dendam. Beberapa kerusakan akibat penyerangan di kota masih terlihat pada 1960-an.
Pada 1920, tentara Soviet pertama kali menguasai Azerbaijan dan kemudian Armenia. Awalnya, Bolshevik berjanji untuk menyatukan kembali Artsakh dengan Armenia, serta wilayah Nakhichevan dan Zangezour. Menurut buku Undeclared War oleh Svante E Cornell, di bawah tekanan dari pemerintah Soviet, komite revolusioner Azerbaijan Soviet mengeluarkan pernyataan pada Desember 1920, bahwa Nakhichevan, Zangezur, dan Artsakh akan dipersatukan kembali dengan Armenia. Tetapi pada 1921, untuk menenangkan Turki, Stalin menegaskan bahwa Artsakh dan Nakhichevan harus tetap berada di bawah otoritas Azerbaijan.
Pada 1923, Stalin memindahkan Artsakh ke Azerbaijan, menetapkannya sebagai Oblast Otonomi Nagorno-Karabakh, sebuah provinsi dengan pemerintahan Soviet dan badan legislatifnya sendiri yang tunduk pada SSR Azerbaijan. Stalin juga memperbarui peta, membelah Artsakh dan menyisahkan sebidang tanah di antara Nagorno-Karabakh dan Armenia. Wilayah ini diberikan kepada Azerbaijan, seperti halnya Nakhichevan, meskipun tidak memiliki perbatasan dengan Azerbaijan, namun secara historis merupakan provinsi Armenia.
Antara 1920 sampai 1977, penduduk Artsakh memohon berkali-kali ke Moskow untuk reunifikasi dengan Armenia. Ribuan penduduk dari Nagorno-Karabakh menandatangani seruan publik untuk meminta reunifikasi dengan Soviet Armenia, yang secara berkala mengajukan petisi kepada Kremlin untuk memberikan perlindungan dari kebijakan yang tidak adil di Baku. Menurut Laporan EVN, sebagian besar surat dan permohonan ini datang setelah Perang Dunia II. Grigory Arutyunov, Sekretaris Pertama Partai Komunis SSR Armenia, menulis kepada Joseph Stalin pada November 1945, meminta penyatuan kembali, berharap Stalin akan menyetujuinya.
Azerbaijan memaksa orang-orang Armenia keluar dari Nagorno-Karabakh. Pemimpin Azerbaijan, Haidar Aliyev, mengakui bahwa ia telah berupaya untuk mengubah demografi wilayah Nagorno-Karabakh. Pemerintah juga menolak menginvestasikan dana publik untuk mengembangkan infrastruktur di Nagorno-Karabakh. Siaran radio dan TV dari Yerevan, ibu kota Armenia, melarang kegiatan sekolah dan gereja Armenia untuk sementara waktu.
Pada 1988, gerakan kemerdekaan dan reunifikasi Artsakh dihidupkan kembali selama kebijakan perestroika Mikhail Gorbachev. Ada demonstrasi di Stepanakert dan Baku untuk menuntut penyatuan kembali Artsakh dengan Armenia. Pada 20 Februari 1988, Dewan Perwakilan Rakyat Karabakh kembali mengeluarkan resolusi yang meminta penyatuan kembali. Komite Karabakh juga dibentuk untuk tujuan reunifikasi tersebut.
Meskipun Armenia tidak menanggapi, pemerintah Azeri melakukan serangkaian pogrom berdarah terhadap orang-orang Armenia di Sumgait dan Kirovabad. Pembantaian itu merenggut lebih dari 360 orang Armenia dan enam orang Azerbaijan. Korban tewas di Kirovabad lebih dari 100 orang. Pada 1990, pogrom tujuh hari di Baku menewaskan ratusan orang dan membuat ribuan orang mengungsi. Pada Desember 1989, pihak berwenang Soviet juga menangkap anggota komite Karabakh, meskipun mereka akhirnya dibebaskan pada bulan Mei.
Antara tahun 1988 sampai 1990, setidaknya 300.000 orang Armenia melarikan diri atau dideportasi dari Artsakh dan Azerbaijan, dan lebih dari 150.000 Azeri melarikan diri dari Armenia karena pihak berwenang Armenia tidak ingin melindungi mereka dari diskriminasi dan kekerasan. Selama semua pogrom ini, tentara Soviet tidak bertindak apa pun.
Ketika Uni Soviet runtuh, Artsakh menyatakan merdeka sebagai Republik Nagorno-Karabakh pada 2 September 1991, tiga hari setelah Azerbaijan mendeklarasikan kemerdekaannya sendiri. Kurang dari satu bulan setelah Artsakh mendeklarasikan kemerdekaannya, Stepanakert dikupas untuk pertama kalinya, periode ini dianggap sebagai deklarasi perang Azerbaijan. Tidak terpengaruh, orang-orang Artsakh memberikan suara sebanyak (99%) untuk kemerdekaan dalam referendum 10 Desember 1991, meskipun tidak ada orang Azeri yang ambil bagian.
Sayangnya, menurut buku Black Garden oleh Thomas de Waal, dalam waktu kurang dari setahun pemimpin de facto wilayah Artsakh dan ketua parlemen Artsakh yang baru terpilih, Artur Mkrtchian, ditemukan tewas secara misterius. Setelah kematiannya pada April 1992, hubungan dengan Armenia dilaporkan membaik.
Azerbaijan menekan penduduk Armenia Artsakh pada awal 1991 melalui 'Operasi Cincin', untuk mendeportasi penduduk Armenia di 24 desa. Dari akhir 1991 hingga pertengahan 1992, pasukan Azeri juga mengebom berbagai kota di Artsakh. Menurut EAFJD, pada musim panas 1992, setengah dari wilayah Nagorno-Karabakh diduduki oleh pasukan Azeri, yang mengharuskan penduduk Armenia mengungsi. Pada 1993, pasukan Armenia mampu menyalip beberapa kota dan memperoleh wilayah ofensif Azerbaijan, yang juga membuat lebih dari 40.000 orang Armenia mengungsi.
Kota Khojaly mengalami pembantaian pada Februari 1992, di mana pemerintah Azeri mengatakan adanya genosida yang dilakukan oleh orang-orang Armenia. Sementara jalannya peristiwa masih diperdebatkan. Beberapa sumber non-Armenia melaporkan adanya peringatan pra-serangan, lebih dari 2.000 warga sipil melarikan diri, serta penemuan korban di sektor yang dikuasai Azerbaijan. Perkiraan korban tewas berkisar antara 180 hingga 600 orang.
Pada 12 Mei 1994, Rusia menengahi gencatan senjata yang telah dilanggar berulang kali selama bertahun-tahun. Pada saat gencatan senjata, Armenia menduduki 9% wilayah Azerbaijan, tidak termasuk Nagorno-Karabakh.
Gencatan senjata telah berulang kali dilanggar dan hanya sedikit upaya yang dilakukan untuk mendamaikan Artsakh, Armenia, atau Azerbaijan. Menurut buku Europe's Next Avoidable War, yang ditulis oleh Michael Kambeck dan Sargis Ghazaryan, sangat sulit untuk mengetahui siapa yang pertama kali melanggar gencatan senjata. Pada 2007, lebih dari 400.000 orang Armenia dan 600.000 Azeri mengungsi akibat perang.
Dalam beberapa tahun terakhir, baik presiden Azerbaijan dan walikota Baku membuat pernyataan tentang pemusnahan orang-orang Armenia dan mendorong penghancuran khachkars Armenia dalam sebuah tindakan genosida budaya.
Pada 2016, Azerbaijan melancarkan serangan militer di Artsakh utara dan selama empat hari setidaknya 200 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Pada September 2020, pertempuran pecah dengan pemboman di Stepanakert dan konflik kembali meningkat menjadi perang. Saat kedua belah pihak menjadi marah dan saling menuduh melanggar gencatan senjata, banyak nyawa yang hilang dan bangunan bersejarah hancur.
Nah, sekarang sudah tahu kan asal usul konflik Azerbaijan dan Armenia di Nagorno-Karabakh. Memang wilayah ini memiliki sejarah panjang, hingga akhirnya tercetus peperangan.
Killing my time with arts, literature, phraseology, visualization, and manipulate. Write to cummunicate.
A freelance, content writer, fiction writer, graphic design, video editor, business founder, and an observer around.
Contact me: ameliasolekha@gmail.com