Life Story Blog mengenai kepekaan sekitar, isu sosial, hobi, dan kepenulisan.
  • Features
    • About Me
    • Portfolio
    • Jasa Edit Desain
    • Experience
    • Images Gallery
  • Opinion
    • Life Story
    • Review Film
    • Resensi Buku
    • Social
  • Novel
    • Afeksi Lampau
  • Fiction
    • Puisi
    • Cerpen
    • Cerbung
  • Journey Of Life
  • Science
    • Discovery
    • Experiment
  • Life
    • Inspiration
    • Relationship
  • Writing
  • More Article
    • Health
    • News
    • Travel
    • Hype
    • Tech
  • IDNTimes

Life Story

The place for write some words

 


Merasa takut itu adalah hal yang bagus untuk anak-anak. Namun, banyak orang tua gak mau anak-anaknya terpapar hal-hal menakutkan, terutama dalam cerita fiksi.

Sayangnya, para pendongeng di masa lalu justru menulis kisah-kisah mengerikan yang ditunjukan untuk anak-anak, contohnya saja Brothers Grimm hingga R.L. Stine. Namun, siapa sangka kalau film-film Walt Disney justru punya kisah gelapnya sendiri, lho.

Ada banyak adegan menegangkan dalam semua karya Disney. Ada pelarian Putri Salju di hutan belantara, halusinasi gajah Dumbo, dan adegan keledai yang mengerikan dalam Pinocchio. Ada juga Bambi, film klasik rilisan 1942 berdasarkan novel karya Felix Salten. Sayangnya, film ini justru membuat anak-anak menjadi trauma selama beberapa generasi.

Bambi menceritakan tentang pertumbuhan anak rusa di hutan yang dipenuhi kengerian, diwarnai kehilangan, dan teror. Jika kamu berpikir itu berlebihan, mari kita bahas lebih mendetail alasan kenapa film Bambi ternyata cukup mengerikan untuk ditonton anak-anak.

Kenapa Film Bambi Terlalu Mengerikan untuk Anak-anak? 

Klik untuk baca selengkapnya!

Share on:


Halo, teman-teman, yang gak tahu ini tulisan ada yang baca apa enggak :) Kita lanjut lagi ya bahas seleksi alam. Aku tanya, sekarang mulai berasa, kan kalau Indonesia semakin gelap gulita. Ya, semoga yang dikatakan Ibu Kartini bisa terealisasikan, ya. "Habis gelap, terbitlah terang." Amin Ibu. Semoga gelapnya gak lama-lama, ya Bu. Soalnya jalan di tempat gelap tuh ada aja ujiannya, nanti nabrak meja-lah, kejedot tembok-lah, grepe-grepe gak jelas kan minta petunjuk arah, tapi yang lain juga lagi pada kegelapan. Hehe, tapi ini bukan soal mati lampu.

Pemerintah memang lagi gak baik-baik aja. Masalah terus dateng bertubi-tubi, berita gak ada tuh yang positif, adanya negatif terus. Ya, gak apa-apa, namanya juga mengulang sejarah. Ingat, ya! Masa damai itu jarang banget terjadi dalam sejarah. Tapi ingat juga, rakyat akan selalu jadi korban.

Untuk saat ini, aku pun yang kena imbas dari Indonesia gelap gak bisa ngasih solusi. Intinya, kita nangis bareng-bareng aja :D Tapi aku ke ingat dengan kata-kata seorang ilmuwan bernama Jane Goodall. Intinya gini, uang itu sumber malapetaka dan kehancuran, semakin kaya seseorang, maka semakin jauh orang itu dari kebijaksanaan. Hanya orang-orang berhati bersih aja yang bisa. Tapi tahu sendiri kan dunia lagi seperti apa. Katanya Jane Goodall, kita lebih baik hidup sederhana, berkecukupan, katanya kalau bisa kita miskin aja sekalian. Eits, tunggu dulu. Maksud miskin di sini itu gaya hidup kita yang gak over consumption, gak hedon, gak gengsian. Ya, pokoknya gitu lah. Istilahnya itu kembali kepada fitrah.

Kalau kamu gak mau kena seleksi alam, ya kamu harus kembali ke fitrah. Gimana sih caranya? Yuk, di mulai dari hal-hal kecil dulu. Contoh, mengurangi makanan kemasan, jajanan, minuman-minuman manis yang ada di supermarket, intinya tren boba itu lah. Selain gak bagus buat kesehatan kamu, terutama ginjal, kamu juga secara gak sadar mengurangi sampah. Mulai beralih ke makanan fresh food. Makanan yang diolah sendiri. Kurangi juga makanan ultra-processed food (UPF), karena penyakitnya banyak banget, guys, dari mulai peradangan sampai penyakit-penyakit jangka panjang. Jurnalnya banyak banget di google, kamu bisa search sendiri, ya.

Nah, saat kamu mulai beralih ke makanan fresh food, kamu pun akan menghasilkan sampah organik. Contohnya, kamu motongin bawang atau sayur, nah, itu kan ada sampahnya. Sampah organik ini jangan kamu campur ke sampah non-organik, ya, karena sayang banget bisa berakhir di tempat pembuangan sampah akhir. Kamu bisa lihat sendiri bahayanya kaya gimana. TPA sampah bisa meledak lho, karena itu tadi, sampah organik tadi mengendap jadi tumpukan gunung sampah yang akhirnya gak bisa terurai. Sampah tersebut menghasilkan gas metana yang akhirnya bisa meledak. Kasusnya ada, kamu search di google.


Terus apa solusinya? Yap, balik ke fitrah. Kamu bisa manfaatkan sampah organik itu sebagai pupuk. Gak pernah menanam? Ya, mulai dari sekarang! Gak mau kena seleksi alam, kan? Kamu bisa mulai berkebun, belajar dari internet. Ilmu sekarang mudah banget di dapat, pertanyaannya, kamu mau gak belajar? Menanam sendiri, berarti kamu sudah menanam satu kebaikan untuk diri kamu sendiri, lingkungan, dan juga alam. 

Lalu, masalah diapers atau popok sekali pakai dan juga pembalut. Aku udah 3 tahun ini mengurangi popok sekali pakai buat anakku, popok sekali pakai di pakai kalau cuma pergi aja. Di rumah aku usahain pakai clodi yang bisa di cuci. Hal ini aku lakukan karena sungai kita udah banyak banget sampah popok sekali pakai. Guys, coba pikir panjang. Gimana kalau suatu hari nanti perubahan ikim semakin parah (ya, memang akan semakin parah), krisis air bakalan terjadi. Kalau sungai aja kita kotorin, nanti kalau krisis air terjadi, otomatis kita gak bisa manfaatin air sungai, dong. Ya, karena sungainya tercemar. Kamu mau minum air limbah dan sampah? Ini juga berlaku untuk pembalut. Sudah 3 tahun lebih aku pakai pembalut kain.

Satu lagi, aku pernah di bully gara-gara pernah bilang kalau orang semakin kaya semakin pelit. Terus aku bilang, berbuat baik itu gak perlu nunggu jadi orang kaya, dengan kita gak menyakiti sesama atau nipu sesama aja itu udah berbuat baik. Nah, ternyata banyak yang ke-trigger. Apa mereka merasa, ya? Aku ngomong gini karena pengalaman pribadi dan mengamati sekitar, gak bermaksud menyindir siapa pun, tapi kalau emang ada yang kesindir, berarti dia merasa, kan. Suamiku sendiri ketipu sama sahabatnya sendiri yang udah kenal dari kecil. Ditipu dan dikhianati gara-gara uang. Mereka rela merusak persahabatan gara-gara duit, dan ya, dia kena karma. Suami juga pernah ditipu sama orang yang ngakunya ustadz, bayangin guys ustadz nipu. Terus contohnya aja koruptor, mereka udah kaya, tapi mereka tamak, seperti kasus Pertamina yang lagi heboh sekarang. Ngerugiin negara dan rakyat pula. Jadi, apa aku salah ngomong gitu? Lagian, di zaman gelap kaya gini, mana bisa jadi kaya kalau bukan harus jadi pejabat dulu. Ingat, kita sekarang pakai sistem rimba!

Di sisi lain, selama ini kita emang gampang banget nyalahin pemerintah, tapi warga sendiri atau bahkan diri kita sendiri minim kesadaran. Emang benar ini salah pemerintah yang gak bisa mengedukasi rakyat, (sengaja sih emang kayanya), gak becus olah anggaran, dan selalu menyengsarakan rakyat, tapi bukan berarti rakyat gak bisa upgrade diri untuk bisa lebih baik lagi. Padahal, sehat dan menjaga lingkungan itu murah, kok. Kamu gak perlu punya mobil Alphard buat bisa peduli sama diri sendiri dan lingkungan. Tapi ini masalah mindset. Ya, udah segitu dulu. Nanti kalau mood, lanjut lagi.
Share on:

Pengobatan kuno ini sangat eksis di zamannya

Minim Manfaat, 10 Pengobatan Kuno Ini Justru Berbahaya bagi Tubuhilustrasi buang darah di toko tukang cukur yang sekaligus dokter (commons.wikimedia.org/Egbert van Heemskerk)

Verified Writer
Verified Writer

Di seluruh dunia dan sepanjang sejarah, setiap budaya memiliki pengobatan yang mereka yakini selama berabad-abad, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, karena pengetahuan kedokteran telah meningkat, para profesional menghindari atau meninggalkan pengobatan tersebut.

Mengutip laporan Journal of Military and Veterans' Health, arsenik pernah digunakan sebagai pengobatan leukemia pada 1930-an. Penelitian masih berlangsung terkait apakah arsenik dapat digunakan sebagai pengobatan kanker yang efektif atau tidak, tetapi seperti yang kita tahu, arsenik sangatlah beracun.

Orang Yunani kuno, khususnya, memiliki kepercayaan bahwa tubuh terdiri dari empat cairan yang berbeda, yang semuanya harus seimbang. Teori itu telah hilang seiring berjalannya waktu, tetapi gagasan beberapa dokter Yunani ini pernah dipercaya selama ribuan tahun. Berikut adalah beberapa pengobatan kuno yang justru berbahaya ketimbang memberikan manfaat.

1. Merkuri, obat beracun untuk pengobatan sifilis 

Merkurimerkuri cair di dalam botol (commons.wikimedia.org/Mr.dudey)

Sifilis diobati dengan berbagai metode selama bertahun-tahun, tapi hanya sedikit yang berhasil. Jika tidak diobati secara efektif, seseorang yang menderita sifilis akan mengalami bisul, demam, dan nyeri otot. Bisul berubah menjadi bopeng dan luka di sekujur tubuh, termasuk di tenggorokan dan mulut. Pada akhirnya, kulit, tulang, organ dalam, sistem saraf, dan sistem kardiovaskular akan mengalami kerusakan permanen.

Dokter Swiss abad ke-16, Paracelsus, merekomendasikan pengobatan luka sifilis dengan salep merkuri, yang merupakan metode pilihannya, karena dia tahu bahaya keracunan yang dapat terjadi akibat meminum merkuri, tulis laman Pharmaceutical Journal.

Dia juga merekomendasikan untuk menghirup asap merkuri, atau lebih baik lagi, keduanya sekaligus. Paracelsus tahu bahwa merkuri bisa digunakan sebagai obat tetapi ia juga menyadari risikonya. Sayangnya, paparan merkuri yang terlalu lama dapat menyebabkan keracunan dan akhirnya kematian. 

Obat berbahan merkuri masih tersedia hingga awal abad ke-20, tetapi penisilin, yang dikembangkan pada 1940-an, terbukti menjadi pengobatan yang jauh lebih efektif dan lebih aman untuk sifilis.

2. Opium digunakan untuk obat tidur

Tanaman opiumtanaman opium (unsplash.com/Tim Cooper)

Opium digunakan oleh orang Mesir dan Romawi kuno sebagai obat tidur, sebagaimana yang dijelaskan History Extra. Dokter Romawi kuno bernama Galen merekomendasikan untuk membeli minuman berbasis opium yang disebut anggur kretik untuk membantu mengatasi masalah sulit tidur. Akan tetapi, risiko opium sudah dikenal bahkan di zaman kuno.

Tabib Yunani bernama Dioscorides bahkan memperingatkan untuk tidak mengonsumsi opium secara berlebihan agar tidak overdosis. Namun, bagi orang Romawi, bunuh diri bukanlah dosa, sehingga beberapa lansia yang menderita penyakit yang berkepanjangan memilih opium untuk mengakhiri hidup mereka.

Opium ditanam di Mesir dalam skala besar, ini diketahui ketika sejarawan menemukan wadah berisi residu opium di kuburan Mesir. Bahkan, opium sudah ditanam di Mesopotamia. Sejarawan juga mengetahui hal ini karena penggambaran artistik opium pada ukiran dan patung. Dalam bahasa Yunani kuno, dewa tidur, Hypnos, dan dewa kematian, Thanatos, juga digambarkan dengan mahkota bunga opiumnya.

Pengobatan opium bisa mengakibatkan depresi berat, yang menyebabkan ketergantungan lebih lanjut pada obat adiktif. Kecanduan juga mengarah pada penemuan morfin dan heroin, keduanya juga membuat ketagihan. Penggunaan opium sebagai obat nyatanya menyebabkan kematian dan peperangan.

3. Tembakau digunakan untuk mengobati batuk dan pilek oleh penduduk asli Amerika 

Tembakautembakau yang telah dikeringkan (unsplash.com/Mehdi Imani)

Ketika Christopher Columbus melakukan perjalanan ke Amerika, dia melihat penduduk asli Amerika menggunakan tembakau untuk menyembuhkan sejumlah penyakit, seperti pilek dan demam, tulis sebuah artikel di Journal of Royal Society of Medicine. Columbus membawa tembakau ke Eropa, di mana beberapa dokter menganggapnya sebagai obat mujarab dan menyebutnya "ramuan suci". Namun, biarawan Fransiskan Andre Thevet memperingatkan bahwa tembakau bisa membuat pingsan dan membuat lemah.

Columbus juga mengamati orang-orang di Kuba merokok dengan tembakau dan menggunakannya untuk menangkal penyakit. Tembakau juga digunakan oleh penduduk asli untuk memutihkan gigi, terutama bila dicampur dengan kapur. Bahkan di abad ke-20, tembakau digunakan dalam berbagai pengobatan, seperti untuk mengobati kutu air, dan pasta gigi berbahan dasar tembakau terus dijual secara komersial di India pada abad ke-21.

Tentu saja, semua orang sekarang tahu bahwa tembakau menyebabkan kanker dan masalah paru-paru, dan telah membunuh jutaan orang di seluruh dunia. Tembakau mengandung nikotin, yang merupakan zat adiktif. Merokok tembakau bersifat karsinogenik, tetapi para ahli masih mempelajari tembakau secara mendalam.

4. Tinja digunakan untuk mengusir roh hingga sebagai alat kontrasepsi 

Toiletilustrasi toilet (unsplash.com/Giorgio Trovato)

Orang Mesir kuno menggunakan kotoran hewan untuk mengusir roh, dan untuk khasiat kesehatannya, mereka menggunakannya untuk kontrasepsi, seperti dilansir Medical Daily. Meskipun beberapa kotoran hewan mengandung zat antibiotik, namun kotoran dapat menyebabkan tetanus dan infeksi lainnya, karena kotoran cenderung menyebarkan penyakit.

Pada 1600-an, dokter Irlandia bernama Robert Boyle mengobati katarak dengan mengeringkan kotoran manusia, menghancurkannya menjadi bubuk dan meniupkannya ke mata pasien. Mimisan juga diobati dengan kotoran babi yang dihangatkan.

Saat ini, profesional medis menggunakan kotoran manusia untuk tujuan diagnostik. Konon, transplantasi feses dapat digunakan untuk mengobati kolitis berulang dengan mengisi kembali keseimbangan bakteri, seperti dikutip Johns Hopkins. Ini bukan konsep baru. Di Tiongkok kuno, orang sakit juga akan menjalani pengobatan "sup kuning", di mana kotoran manusia akan dibuat menjadi kaldu untuk mengobati diare.

Faktanya, tinja dapat menyebabkan mual, diare, muntah, dan demam karena bakteri di dalamnya, seperti E. coli dan salmonella. Itu semua adalah bakteri normal yang ada di usus manusia. Hepatitis A dan E juga terdapat pada tinja.

5. Buang darah dilakukan untuk menyeimbangkan tubuh

Buang darahilustrasi buang darah di toko tukang cukur yang sekaligus dokter (commons.wikimedia.org/Egbert van Heemskerk)

Buang darah telah digunakan selama ribuan tahun lamanya. Bagi orang Yunani, buang darah dilakukan untuk menyeimbangkan cairan tubuh. Hippocrates percaya bahwa tubuh terdiri dari empat cairan: darah, empedu kuning, empedu hitam, dan dahak. Jika empat cairan ini tidak seimbang, maka penyakit bisa datang. Penyakit ini dapat diobati dengan menghilangkan cairan yang berlebihan, misalnya dengan mengeluarkan darah melalui lintah, seperti yang dijelaskan oleh British Columbia Medical Journal.

Namun, buang darah dapat mengundang infeksi. Misalnya, pada 1799, seorang dokter dipanggil untuk merawat George Washington, yang sedang demam dan kesulitan bernapas. Dokter, dengan bantuan George Rawlins, mengeluarkan 3,75 liter darah George Washington selama beberapa jam, dalam jumlah hingga 0,51 kilogram sekaligus.

Oleh karena itu, lebih dari separuh darah di tubuh Washington dikeluarkan dalam upaya menyembuhkan penyakitnya. Washington meninggal pada malam berikutnya karena menderita epiglotitis dan syok. Faktanya, hampir tidak mungkin menyembuhkan penyakit ketika darah yang notabennya untuk memberikan kehidupan diambil dalam jumlah yang sangat banyak.

Itulah sebabnya mengapa saat mendonorkan darah, petugas memastikan pendonor tidak pingsan, karena kehilangan darah yang ekstrim bisa menyebabkan kematian.

6. Kokain digunakan sebagai anestesi 

Kokainilustrasi kokain (unsplash.com/Colin Davis)

Kokain (daun koka) digunakan oleh suku Inca sebagai obat mujarab. Pelancong Italia bernama Amerigo Vespucci menulis tentang penduduk asli Inca yang menggunakan tanaman itu dalam memoarnya. Suku Inca mengunyah daun koka untuk mengobati depresi, lapar, dan lelah. Meskipun penjajah Spanyol awalnya tidak percaya dengan khasiat tanaman itu, tetapi mereka melihat fakta bahwa tanaman itu memberikan energi ekstra bagi para budak untuk menambang perak, seperti yang dijelaskan Regional Anesthesia and Pain Medicine.

Kokain akhirnya menyebar ke Eropa dan Amerika Serikat, di mana ia dinikmati sebagai teh dan permen karet, serta obat bius dalam pembedahan. Dokter mata bernama Wina Carl Koller pertama kali menggunakan kokain sebagai estetika pada 1884.

Kokain kemudian populer sebagai obat di Amerika dan Eropa. Namun kokain dapat menyebabkan masalah jantung dan stroke karena meningkatkan tekanan darah tubuh, seperti yang dilaporkan Very Well Mind. Tanda-tanda penyalahgunaan kokain termasuk depresi, paranoia, dan kekerasan. Kokain akhirnya diklasifikasikan sebagai narkotika setelah diidentifikasi memiliki potensi penyalahgunaan dan menimbulkan keresahan sosial. Penggunaan medisnya pun sangat dibatasi saat ini.

7. Belerang digunakan untuk mengembalikan posisi rahim

Belerangilustrasi belerang (commons.wikimedia.org/Ben Mills)

Di Yunani kuno, orang percaya bahwa rahim akan bergerak di dalam tubuh jika seorang perempuan sudah lama tidak melakukan hubungan seksual. Rahim juga dianggap untuk terus bekerja menghasilkan anak. "Rahim yang bergerak" dianggap sebagai penyebab histeria, mati lemas, dan kejang, bersama dengan beberapa kondisi lainnya.

Belerang adalah obat pilihan bagi perempuan yang mengalami rahim bergerak. Pasien perempuan difumigasi dengan belerang dan resin ter, lalu lotion-nya dipijat ke paha mereka. Mereka juga akan dipijat dan dimandikan. Para ahli di zaman itu percaya bahwa rahim sangat terganggu dengan bau tak sedap yang dikeluarkan belerang sehingga ia akan kembali ke posisi semula, seperti dilansir Medical Independent.

Namun, menghirup belerang dapat berdampak negatif pada hidung, paru-paru, tenggorokan, dan mata, membuat seseorang kesulitan bernapas, serta mengalami pembengkakan paru-paru, sebagaimana yang diungkapkan Agency for Toxic Substances and Disease Registry.

Saat ini, belerang digunakan sebagai asam sulfat, yang dimasukkan ke dalam baterai dan pupuk, hal itu jelas sangat tidak direkomendasikan untuk dihirup.

8. Urin digunakan untuk terapi 

Urinilustrasi tes urin (unsplash.com/CDC)

Urin telah digunakan sebagai terapi selama ribuan tahun, terutama untuk infeksi virus dan bakteri. Petunjuk untuk terapi ini ditemukan dalam artefak dari Mesir kuno, Yunani, dan Roma, serta dalam teks yogi India dan dokumen dari Tiongkok kuno. Urin biasanya akan terkontaminasi ketika berada di luar tubuh, tetapi belum tentu beracun. Namun, minum urin dapat menyebabkan muntah, diare, dan demam, seperti yang dilaporkan The American Journal of Nephrology. Urin juga bisa membuat seseorang dehidrasi.

Sebuah studi di Pan African Medical Journal menggambarkan bahwa beberapa orang Nigeria memberikan urin kepada bayi dan anak kecil yang menderita kejang untuk pengobatan. Terapi tradisional ini semakin populer karena meningkatnya jumlah kemiskinan. Orang yang menggunakan terapi urin juga menunjukkan resistensi yang besar terhadap antibiotik biasa.

9. Trepanasi untuk mengatasi nyeri pada tengkorak dan masalah gangguan neurologis 

Trepanasitengkorak trepanasi seorang wanita (commons.wikimedia.org/Unknown author)

Selama ribuan tahun, manusia mempraktikkan operasi yang disebut trepanasi, atau melubangi tengkorak seseorang dengan mengebor, memotong, atau menggoresnya. Trepanasi kemungkinan dilakukan karena nyeri pada tengkorak atau karena gangguan neurologis. Selain itu, trepanasi juga dilakukan sebagai ritual. 

Trepanasi yang ditemukan di sebuah makam keluarga yang diduga berasal dari Zaman Tembaga di Rusia menunjukkan bahwa lubang-lubang itu dibuat di obelion, sebuah titik di bagian atas dan belakang tengkorak. Area ini sangat berbahaya untuk dilubangi, karena letaknya tepat di atas tempat darah dari otak berhenti sebelum mengalir ke pembuluh darah otak yang mengalir keluar, hal ini bisa berisiko mengalami pendarahan hebat, tetapi banyak juga yang selamat.

Namun, tengkorak lain menunjukkan bahwa beberapa orang tidak bertahan lama setelah operasi trepanning. Trepanasi tidak dipraktikkan lagi, meskipun praktik tersebut tetap bertahan hingga abad ke-19.

10. Obat dari tubuh seseorang yang sudah meninggal, seperti darah untuk mengobati kejang

Ilustrasi darahilustrasi darah (unsplash.com/Alexandre Boucey)

Mengonsumsi berbagai bagian tubuh orang yang sudah mati telah menjadi obat selama ribuan tahun. Darah, tulang, dan lemak digunakan untuk mengobati penyakit di Eropa. Namun, meskipun Raja Charles II meminum pecahan tengkorak manusia yang dicampur ke alkoholnya, dia akhirnya meninggal karena kejang karena perawatan medis yang menyiksa.

Dokternya mengeluarkan banyak darahnya setelah ia kejang, memberinya enema, dan obat-obatan. Raja Charles II kemudian dicekoki dengan minuman yang mengandung alkohol dan tengkorak yang dihancurkan pada hari ketiga perawatan, tapi meninggal beberapa hari kemudian. 

Darah dianggap mampu mempertahankan vitalitas bahkan setelah kematian, jadi harus dikonsumsi sebagai obat secepat dan sesegar mungkin, meski ini sulit. Orang miskin di zaman itu bahkan menghadiri eksekusi untuk membayar secangkir darah segar dari orang yang dieksekusi, tulis Smithsonian Magazine.

Darah jika diminum dalam jumlah yang banyak dapat membuat seseorang muntah, karena sistem pencernaan manusia tidak dapat mencernanya. Seseorang yang mengkonsumsi darah juga bisa mengalami masalah jantung dan hati, karena tubuh menyerap terlalu banyak zat besi dalam darah yang diminum, sebab tubuh tidak memiliki cara untuk membuangnya, tulis laman Healthline.

Dalam sejarah umat manusia, manusia mencari pengobatan untuk menyembuhkan penyakit yang mereka derita. Beberapa pengobatan sudah ada sejak berabad-abad lamanya, seperti kulit pohon willow yang sekarang menjadi bahan utama untuk aspirin. Namun, ada pula pengobatan yang kurang efektif dari yang diperkirakan sebelumnya, atau justru dapat membahayakan pasien. Beberapa pengobatan bahkan bisa membunuh, seperti 10 pengobatan yang telah kita bahas.

Sumber
https://jmvh.org/article/arsenic-the-poison-of-kings-and-the-saviour-of-syphilis/
https://pharmaceutical-journal.com/article/opinion/syphilis-and-the-use-of-mercury
https://jmvh.org/article/syphilis-its-early-history-and-treatment-until-penicillin-and-the-debate-on-its-origins/
https://www.historyextra.com/period/ancient-history/ancient-drug-use-history-how-what-for-opium-hemp/
https://www.arcgis.com/apps/Cascade/index.html?appid=2f2f6e15db9a4d8282141f9ff2cbf55c
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1079499/
https://medlineplus.gov/ency/article/002032.htm
https://www.medicaldaily.com/use-poop-medical-treatments-throughout-history-400497
https://www.theguardian.com/commentisfree/2015/apr/06/ninth-century-remedy-mrsa-powdered-poo
https://www.hopkinsmedicine.org/gastroenterology_hepatology/clinical_services/advanced_endoscopy/fecal_transplantation.html
https://www.research.va.gov/currents/winter2015/winter2015-11.cfm
https://www.healthline.com/health/what-happens-if-you-eat-poop#What-happens-to-a-person-when-they-eat-poop?
https://bcmj.org/premise/history-bloodletting
https://allthatsinteresting.com/bloodletting
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17687926/
https://smartdrugpolicy.org/a-short-history-of-cocaine/
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22531385/
https://www.verywellmind.com/does-cocaine-have-any-legit-medical-uses-1124135
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2485453/
https://wwwn.cdc.gov/TSP/MMG/MMGDetails.aspx?mmgid=249&toxid=46
https://www.karger.com/Article/Pdf/13436
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3032614/
https://web.archive.org/web/20160829123933/http://www.bbc.com/earth/story/20160826-why-our-ancestors-drilled-holes-in-each-others-skulls
https://www.targethealth.com/post/britains-charles-iis-medical-treatment-led-to-his-suffering-and-death
https://www.smithsonianmag.com/history/the-gruesome-history-of-eating-corpses-as-medicine-82360284/
https://www.healthline.com/health/drinking-blood#precautions
Share on:

Pernah gak sih berpikir, berapa lama lagi umat manusia bisa bertahan hidup di dunia yang semakin hari semakin gila kayak gini?

Share on:

Tragedi terburuk dalam sejarah Angkatan Laut Amerika Serikat

Share on:
  • ← Previous post
  • Next Post →
Tweets by AmeliaXylo
  • Killing my time with arts, literature, phraseology, visualization, and manipulate. Write to cummunicate.
  • A freelance, content writer, fiction writer, graphic design, video editor, business founder, and an observer around. Contact me: ameliasolekha@gmail.com
140x140

Amelia Solekha

Facebook Twitter Gplus RSS

Popular Posts

  • About Me
    Wanita kelahiran Jakarta, 10 Juni 1996. Menyukai dunia literasi dan
  • My Life Memories (Part 4)
    Broadcasting
  • Privacy Policy
    Privacy Policy for Life Story

This blog is to provide you with daily outfit ideas and share my personal style. For sharing of media online, photos, videos, quotes, links... etc.

Facebook Twitter Linkedin Gplus Youtube

Life Story

Blog mengenai kepekaan sekitar, isu sosial, hobi, dan kepenulisan.

  • Home
  • Contact
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Terms of Service
Created By SoraTemplates | Copyright © 2021 Life Story